Menulis, berarti seseorang telah menanam hutan belukar di dasar kepalanya yang paling berimaji.
Wikipedia
Hasil penelusuran
Jumat, 18 Maret 2016
Berbelasungkawa
Jika kau minta, aku akan sekali lagi bertanya.
Mengapa jantung kita detak.
Mata kita belalak.
Sayap-sayap urung mengepak.
Kita, menyaksikan seluruhnya dari mata.
Di mana-mana, di luar kita.
Desau nafas menelusup asap, di trotoar jalan, di angkutan kota.
Dada kita tiba-tiba sesak, menerka-nerka setiap kata.
Aku, melihat kaum durjana kota bersafari.
Melenyap dan membungkam nafasnya sendiri.
Kau bilang; api adalah permainan abadi milik manusia kota.
Di sana, kejujuran adalah kesia-siaan yang rahasia.
Sore hari, radio mengudara lagi.
Hutan berlari, mencari tabib bagi daunnya sendiri.
Dan kota, ia seperti pedagang pasar tradisonal yang berada di ambang rugi.
Jika tak mereka indahkan taman, maka manusia kota akan mati.
Selasa, 15 Maret 2016
Dikunjungi Hujan.
Kau bilang;
ada sesuatu yang rumit dan sukar tertebak.
Ia seperti letupan, ingatan, lalu meluap dari dalam kepalamu.
Bibirmu tiba-tiba getar, menghempaskan abu.
Serta lagu-lagu dayu, berbunyi denyut, dan kau hilang dalam hanyut.
Selimut tebalmu, ia bentang di tubuhmu yang rentang.
Ia benteng lembut, yang kau beli di pasar kota, yang baru saja di lalap kobaran politik.
selimut itu,
Ia peredam atas letupan rahasia, dan perihal lampau yang gagal terjangkau.
Kau sembunyi, kedap udara, dan jantungmu bara.
Di mejamu; tergelepar berlembar kertas, suara radio, dan secangkir cokelat hangat gagal usai.
Apa yang kau tuai?
Lalu kau bilang lagi;
sebetulnya, hujan adalah perihal yang paling kau benci.
Hujan piawai memutar film, melukis, dan menjadikanmu seorang pengunjung,
yang menikmati masa lalunya di depan layar kaca jendela,
yang selalu tertunda untuk kau ubah menjadi susunan kayu.
Hujan selalu menyertakan namaku di hadapmu, senyum punyaku, dan kesakitan yang kusesali.
Aku juga; membenci hujan.
Ia membawamu ke dalam kamarku, ruang tidurku, dan di puisi-puisiku.
Hanya untuk menjadi rahasia dan tiada.
ada sesuatu yang rumit dan sukar tertebak.
Ia seperti letupan, ingatan, lalu meluap dari dalam kepalamu.
Bibirmu tiba-tiba getar, menghempaskan abu.
Serta lagu-lagu dayu, berbunyi denyut, dan kau hilang dalam hanyut.
Selimut tebalmu, ia bentang di tubuhmu yang rentang.
Ia benteng lembut, yang kau beli di pasar kota, yang baru saja di lalap kobaran politik.
selimut itu,
Ia peredam atas letupan rahasia, dan perihal lampau yang gagal terjangkau.
Kau sembunyi, kedap udara, dan jantungmu bara.
Di mejamu; tergelepar berlembar kertas, suara radio, dan secangkir cokelat hangat gagal usai.
Apa yang kau tuai?
Lalu kau bilang lagi;
sebetulnya, hujan adalah perihal yang paling kau benci.
Hujan piawai memutar film, melukis, dan menjadikanmu seorang pengunjung,
yang menikmati masa lalunya di depan layar kaca jendela,
yang selalu tertunda untuk kau ubah menjadi susunan kayu.
Hujan selalu menyertakan namaku di hadapmu, senyum punyaku, dan kesakitan yang kusesali.
Aku juga; membenci hujan.
Ia membawamu ke dalam kamarku, ruang tidurku, dan di puisi-puisiku.
Hanya untuk menjadi rahasia dan tiada.
Senin, 07 Maret 2016
Monday Blues Vs Satenight.
Hidup terlampau berpilah-pilih untuk setiap tujuan, harapan, serta jalan yang akan ditempuh.
..
Sabtu malam, atau lebih dikenal dengan sebutan, malam minggu.
Adalah satu momentum yang paling ditunggu dan mendapat perhatian khusus dari sebagian orang, yang sejak jauh hari telah menyusun beberapa agenda.
Beberapa ada yang sudah berniat untuk ngapel, atau kencan disalah satu tempat, makan-makan, berbelanja di mall, atau sekadar jalan-jalan mengitari alun-alun kota.
Sadar atau tidak, malam minggu seolah punya identitas dan daya tarik tersendiri.
Malam minggu seolah memiliki daya sugesti yang amat kuat.
Perhatikan, tidak sedikit orang rela menjebak diri mereka di tengah kemacetan, berhimpit, dan yang terparah adalah, tidak sedikit dari mereka menghabiskan uang tabungan hanya untuk merayakan malam minggu.
Namun, lain lagi halnya jika melihat apa yang terjadi di dua hari berikutnya, hari senin.
kebanyakan orang, menjuluki hari ini sebagai I Hate Monday, bahkan mungkin yang terparah adalah Monster Day.
Akan tetapi, bukan berarti julukan-julukan tersebut tak memiliki alasan dan dasar yang bersifat subjektif.
Alasan paling terpopuler dan yang sering menjadi keluhan tak lain adalah, sebab hari senin ialah waktu di mana semua rutinitas, kesibukan, tanggung jawab, dan pekerjaan menumpuk nyaris terjadi pada waktu yang sama.
Hal ini jelas memiliki rasa serta sensasi yang berbeda dengan dua hari yang lalu.
Di hari senin tak ada kencan, belanja di mall, apalagi jalan-jalan macam malam minggu.
Tapi demikianlah dinamika hidup sehari-hari yang kerap terjadi di tengah masyarakat.
lagi-lagi ini adalah perihal pilihan.
Kamu mau pilih mencintai hari senin dengan segudang kesibukannya, dan malam minggu dengan kesenangannya, atau memilih untuk mencintai keduanya dengan mengambil sikap yang bijak dan tidak berdampak buruk untuk masa kini, dan masa depan nanti.
Selamat berpilah-pilih.
..
Sabtu malam, atau lebih dikenal dengan sebutan, malam minggu.
Adalah satu momentum yang paling ditunggu dan mendapat perhatian khusus dari sebagian orang, yang sejak jauh hari telah menyusun beberapa agenda.
Beberapa ada yang sudah berniat untuk ngapel, atau kencan disalah satu tempat, makan-makan, berbelanja di mall, atau sekadar jalan-jalan mengitari alun-alun kota.
Sadar atau tidak, malam minggu seolah punya identitas dan daya tarik tersendiri.
Malam minggu seolah memiliki daya sugesti yang amat kuat.
Perhatikan, tidak sedikit orang rela menjebak diri mereka di tengah kemacetan, berhimpit, dan yang terparah adalah, tidak sedikit dari mereka menghabiskan uang tabungan hanya untuk merayakan malam minggu.
Namun, lain lagi halnya jika melihat apa yang terjadi di dua hari berikutnya, hari senin.
kebanyakan orang, menjuluki hari ini sebagai I Hate Monday, bahkan mungkin yang terparah adalah Monster Day.
Akan tetapi, bukan berarti julukan-julukan tersebut tak memiliki alasan dan dasar yang bersifat subjektif.
Alasan paling terpopuler dan yang sering menjadi keluhan tak lain adalah, sebab hari senin ialah waktu di mana semua rutinitas, kesibukan, tanggung jawab, dan pekerjaan menumpuk nyaris terjadi pada waktu yang sama.
Hal ini jelas memiliki rasa serta sensasi yang berbeda dengan dua hari yang lalu.
Di hari senin tak ada kencan, belanja di mall, apalagi jalan-jalan macam malam minggu.
Tapi demikianlah dinamika hidup sehari-hari yang kerap terjadi di tengah masyarakat.
lagi-lagi ini adalah perihal pilihan.
Kamu mau pilih mencintai hari senin dengan segudang kesibukannya, dan malam minggu dengan kesenangannya, atau memilih untuk mencintai keduanya dengan mengambil sikap yang bijak dan tidak berdampak buruk untuk masa kini, dan masa depan nanti.
Selamat berpilah-pilih.
Minggu, 06 Maret 2016
Roda Waktu.
Tugas utama dari roda adalah berputar, dan membawa sesuatu yang bertumpu di atasnya, menuju ke suatu masa yang masih rahasia dan tidak diketahui.
Hal ini sering kali juga disebut oleh kebanyakan orang dengan seruan: Takdir.
Kau, aku, sedang bertumpu pada roda yang berbeda.
Dalam masa pertumpuan ini, banyak hal berubah-ubah, berputar-putar, asing, dan kadang kala kita luput, lalu hilang.
"Kapan kau kembali, bung?"
Aku persis sepertimu, pertanyaan dan kegelisahan kerap kali memburu, mereka tidak mengindahkan apa-apa dariku. Kecuali, "Segeralah kembali, bung!"
Roda yang kutunggangi kini, adalah yang paling rahasia dan tersial.
Aku sibuk dibuatnya, lupa, atau mungkin sedang tak menyadari bahwa sesuatu dariku sebetulnya telah hilang.
Aku pun sebetulnya rindu pada kotamu, ingin sekali kembali, dan menggilai lagi apa-apa yang membuat kita terlihat tidak lebih waras dari kota yang lupa memakmurkan kita.
Aku mencintai perjalanan menuju rumahmu, dan kemacetan yang kutemui nyaris di tiap meter laju bus kopaja.
Aku mengagumi gambar logo tiket dari salah satu stasiun kereta yang sering kita tumpangi sepulang dari lokasi wisata kebun binatang.
Kita pernah menjadi dua pelajar yang duduk di bangku yang serupa, kau duduk di dekatku, dan guru terkadang datang terlambat.
Kau mungkin masih ingat, aku punya prestasi akademik yang cukup cemerlang untuk seorang murid pembangkang sepertiku pada masa itu.
Tapi, prestasiku seperti mati, tak bernyali untuk menyelesaikan jawaban dari pertanyaan yang kau hunus, dan sisa saldo pulsa dari ponselmu selalu habis tepat sebelum aku selesai menjawab apa-apa, dan aku selalu mensyukuri insiden yang kau benci itu.
Rodaku, entahlah.
Begitu pula rodamu, aku tak mengindahkan.
Takdir membawa kita ke ruas yang berbeda.
Aku mengenalmu sebagai teman, dan takdir, juga waktu, mengganti namamu sebagai, sahabat.
Semoga kita kekal, bung.
Hal ini sering kali juga disebut oleh kebanyakan orang dengan seruan: Takdir.
Kau, aku, sedang bertumpu pada roda yang berbeda.
Dalam masa pertumpuan ini, banyak hal berubah-ubah, berputar-putar, asing, dan kadang kala kita luput, lalu hilang.
"Kapan kau kembali, bung?"
Aku persis sepertimu, pertanyaan dan kegelisahan kerap kali memburu, mereka tidak mengindahkan apa-apa dariku. Kecuali, "Segeralah kembali, bung!"
Roda yang kutunggangi kini, adalah yang paling rahasia dan tersial.
Aku sibuk dibuatnya, lupa, atau mungkin sedang tak menyadari bahwa sesuatu dariku sebetulnya telah hilang.
Aku pun sebetulnya rindu pada kotamu, ingin sekali kembali, dan menggilai lagi apa-apa yang membuat kita terlihat tidak lebih waras dari kota yang lupa memakmurkan kita.
Aku mencintai perjalanan menuju rumahmu, dan kemacetan yang kutemui nyaris di tiap meter laju bus kopaja.
Aku mengagumi gambar logo tiket dari salah satu stasiun kereta yang sering kita tumpangi sepulang dari lokasi wisata kebun binatang.
Kita pernah menjadi dua pelajar yang duduk di bangku yang serupa, kau duduk di dekatku, dan guru terkadang datang terlambat.
Kau mungkin masih ingat, aku punya prestasi akademik yang cukup cemerlang untuk seorang murid pembangkang sepertiku pada masa itu.
Tapi, prestasiku seperti mati, tak bernyali untuk menyelesaikan jawaban dari pertanyaan yang kau hunus, dan sisa saldo pulsa dari ponselmu selalu habis tepat sebelum aku selesai menjawab apa-apa, dan aku selalu mensyukuri insiden yang kau benci itu.
Rodaku, entahlah.
Begitu pula rodamu, aku tak mengindahkan.
Takdir membawa kita ke ruas yang berbeda.
Aku mengenalmu sebagai teman, dan takdir, juga waktu, mengganti namamu sebagai, sahabat.
Semoga kita kekal, bung.
Sabtu, 05 Maret 2016
Inspirasi dan Semangat.
Di dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang sudah barang tentu membutuhkan asa dan semangat, agar kiranya apa yang dilakukan dapat berjalan dengan lancar serta menghasilkan sesuatu yang sepadan dengan harapan.
Inspirasi, mendengar kata ini, saya dengan spontan berpikir, bahwa nyaris semua orang pasti membutuhkan inspirasi di tengah kesibukan, pekerjaan, dan berbagai kegiatan-kegiatan yang digeluti sehari-hari.
Betapa tidak, kehadiran inspirasi memberikan dampak yang cukup kuat, untuk mendukung mimpi dan usaha seseorang sehingga dapat menghasilkan hal-hal yang cemerlang.
Dan ditambah lagi dengan semangat yang dimiliki, semua halangan-halangan seolah tidak lagi terasa berat.
Demikian pula halnya dengan buku Bukan Utophia.
Saya, beserta para penulis lainnya, akhirnya dapat menyelesaikan buku Bukan Utophia yang sudah tentu tidak terlepas dari inspirasi dan semangat di tiap proses pengerjaannya.
Nah, jika kami bisa berkarya dan menyelesaikan buku Bukan Utophia.
Kalian juga tentu bisa berkarya layaknya yang telah kami lakukan.
Cari inspirasimu, tingkatkan semangatmu.
Bukan Utophia siap menjadi bacaan yang menginspirasi dan menjadi acuan yang bakal membuatmu bertambah semangat.
Good luck!
Buku Bukan Utophia bisa kalian pesan sekarang.
Untuk pemesanan bisa dihubungi via:
Line: Eghyvdjaya
Email: Eghyvdjaya@gmail.com
BBM: 5D988139
Kamis, 03 Maret 2016
Petualangan.
Tahukah, dalam sekejap sesuatu bisa berubah-ubah, bahkan sebelum kamu siap menebak dan menghadapinya.
Petualangan selalu seru, terlampau hambar jika hanya diam dan tak berbuat apa-apa.
Beberapa alasan sebetulnya terdengar cukup logis, mereka ragu melakukan sesuatu karena resiko dan alasan-alasan lainnya.
Namun, ada satu petualangan yang layaknya patut untuk dimulai dan ditekuni.
Kakimu tak perlu melangkah berkilo-kilo meter, resiko tak perlu lagi dicemaskan, dan semua akan sempurna jika secangkir teh hangat atau minuman favoritmu terparkir di dekatmu dengan tenang.
Ini adalah petualangan terbaik!
Lalu, petualangan terbaik yang seperti apakah itu?
Mari menyimak, mari membaca, mari memahami.
Ya, berpetualang dengan buku!
Imajinasimu, prasangkamu, akan berpetualang dengan sendirinya di dalam kepalamu.
Menyelami konflik cerita, berandai-andai, menduga-duga.
Dan terkadang kamu akan merasa menjadi seseorang yang berada di antara buku bacaanmu.
Entah kamu menjadi sosok si lugu, pendiam, romantis, atau karakter lainnya.
Ini petualangan paling rahasia, hanya kamu dan bukumu yang tahu kamu menjadi sebagai karakter siapa.
Sssttt.. sembunyikan karaktermu dari minuman favoritmu, dia sungguh mengamatimu dari jarak dekat!
Tapi, bukankah setiap buku hanya membahas satu-dua point perkara saja, serta tokoh cerita yang tak banyak? Berarti tak banyak karakter yang bisa diselami dan dicicipi?
Ya, betul. Tak banyak buku yang mengangkat banyak tokoh dan ragam macam cerita.
Namun di sinilah titiknya, buku Bukan Utophia siap bekerja dan menjadi referensi bacaanmu.
Di dalam buku Bukan Utophia terdapat banyak sekali karakter, alur, dan konflik.
Imajinasimu akan lebih liar. Bersiaplah menebak, dan menghadapi skenario yang tak terduga dari para penulis-penulis kota Makassar.
Sudah siap berpetualang?
Yuk, segera order buku Bukan Utophia.
Untuk info pemesanan bisa dihubungi via:
Line: Eghyvdjaya
Email: Eghyvdjaya@gmail.com
BBM: 5D988139
Terima kasih.
Selamat berpetualang!
Minggu, 14 Februari 2016
Terima Kasih, Bukan Utophia.
Saya sangat bersyukur di tahun ini.
Ini adalah salah satu tahun terbaik bagi saya.
Betapa tidak, karya tulis saya akhirnya termuat di dalam satu buku dan kini telah siap untuk dibaca khalayak luas.
Kemudian, saya bersyukur sekali bisa menjumpai mereka; para penulis Bukan Utophia.
Saya beruntung bisa tergabung di lingkungan orang-orang hebat dan kreatif seperti mereka.
Buku Bukan Utophia mengajarkan saya berbagai hal.
Terlebih pada saat buku bukan utophia masih dalam tahap rangkaian.
Saya dan penulis lainnya begitu antusias dalam proyek ini.
Energi, pemikiran, serta canda tawa juga tidak lepas dari tiap diskusi kami.
Saya seperi berada dalam rumah kedua, bersama dengan para penulis lainnya.
Kami menciptakan ikatan emosional yang sangat baik.
Sekali lagi, saya berterima kasih kepada yang Maha Kuasa atas waktu, kesempatan, kesehatan, dan ridhonya untuk memperlancar proses pembuatan buku bukan utophia
Juga tak terkecuali orang-orang yang telah mendukung proyek ini.
Dan sekaligus saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada mentor kami, pembimbing kami, penasehat kami, Umma Azura.
Umma Azura adalah salah satu orang yang sangat mendukung kami.
Tanpa beliau, kami mungkin akan lebih banyak menggaruk-garuk kepala-bingung.
Sebab tak ada orang berpengalaman yang memberi kami masukan serta arahan yang tepat.
Saya sangat berterima kasih kepada semuanya.
Semoga lahirnya bukan utophia bisa membawa manfaat serta inspirasi bagi para pembacanya.
Nah, jadilah satu dari sekian pembaca yang akan merasakan keseruan, rasa penasaran, dan gejolak cinta dalam buku Bukan Utophia.
Kami masih membuka promo spesial buat kalian sampai bulan maret nanti.
Cuma 47.000,-rupiah.
Untuk pemesanan silahkan hubungi:
089-674-345-584.
Untuk konfirmasi (SMS) pemesanan silahkan kirim dengan format:
-Nama Lengkap-Alamat Lengkap(termasuk kecamatan dan kode pos)-Jumlah Pesanan-Jumlah Pesanan-Jumlah Transfer.
Terima Kasih.
Langganan:
Postingan (Atom)


